"Sebab mencintai adalah merelakan dirimu untuk bahagia ... dan sakit."
Gatra memandang si pemilik mata teduh di hadapannya. Mata yang membuat Gatra berhasrat menembusnya. Menembus dinding kokoh yang dibangun si empunya.
"Kenapa kau memandangku terus, Gatra?"
Gatra memperbaiki letak duduknya sambil tersenyum tipis. "Matamu indah, Alika ... tapi penuh kesedihan...."
Perempuan itu hanya tersenyum.
"Kamu tak mau membagi kesedihanmu, Alika?"
"Kesedihan bukan untuk dibagi-bagi, Gatra."
"Lalu kapan kau bahagia? Kapan kau mau berbagi bahagia denganku?"
Alika menghembuskan napas pelan. Pandangannya dialihkan ke arah lain. "Carilah perempuan yang bisa membagi kebahagiaannya untukmu, Gatra. Jangan aku...."
"Tapi aku mau kamu."
"Apa yang bisa diharapkan dari perempuan yang masih berkutat dengan masa lalunya, Gatra?"
"Aku mencintai segala yang ada di dirimu, Alika. Kalaupun masa lalu adalah bagian dari dirimu sekarang, aku mencintai itu."
"Aku hidup di masa lalu, Gatra. Mengertilah... berhenti menjadikanku pusatmu."
Gatra menatap manik mata Alika tanpa berkedip, masih mencoba memasuki dinding kokoh yang dibangun perempuan beralis tebal itu.
"Gatra...."
"Mencintai tidak segampang itu, Alika. Kau tak bisa menyuruhku berhenti lalu mencari perempuan lain untuk kuberikan hatiku. Tak seperti itu."
Alika tersenyum samar. "Apa yang tak kausukai dariku?"
Gatra terdiam. Dia sesungguhnya menyukai segala hal tentang perempuan yang telah dikenalnya sejak tiga tahun itu. Dia suka saat Alika tersenyum. Dia suka saat Alika bercerita padanya. Dia suka saat-saat mereka duduk berdua di kafe seperti saat ini.
"Gatra?"
"Jangan pernah bersedih, Alika. Aku tak suka itu."
Alika mengulurkan tangannya menyentuh telapak tangan Gatra. Dia tersenyum lalu berucap pelan, "Cek kembali hatimu, Gatra. Apa kau benar mencintaiku atau sekadar berhasrat untuk memilikiku?"
Gatra menggenggam erat tangan Alika. "Aku ingin kaubagi kesedihanmu. Tolong jangan kausimpan sendirian. Izinkan aku melindungimu. Aku mau kau berbagi luka yang selalu tampak di matamu itu, tapi tak pernah bisa kusentuh. Aku mencintaimu, Alika. Sungguh ...."
Perlahan, genggaman itu dipaksa untuk mengendur ... lalu lepas. Alika bangkit dari duduknya, menatap Gatra.
"Aku tak bisa, Gatra. Aku hanya menyakitimu kalau kita memulai hubungan baru selain sebagai sahabat..." Alika tersenyum getir. "Aku masih berharap pada orang lain. Maafkan aku, Gatra...."
Alika melangkah pergi meninggalkan kafe tanpa berbalik lagi.
Meninggalkan Gatra yang kini di matanya juga ada kesedihan.
**
Ini pasti ceritanya mbak Hobbit ini mah... :))))
BalasHapusEnggak gitu, Masha.. enggak gitu.. idenya sambil lalu saja. Da saya mah apa atuh....
Hapus