Jumat, 10 Oktober 2014

#Jumatulis Season 2 - 3 Pesona - Empat Fiksimini

Senyum - Aku terpesona oleh senyumnya. Maka, sebelum berpisah kuminta sedikit senyumnya sebagai kenang-kenangan.

Pesona Senja - Sukab mencuri untuk Alina dan memasukkannya ke dalam amplop.

Hadiah - "Apa yang kau suka dariku?" tanya Aisyah. | "Matamu," jawab Fahri.
Besoknya, Fahri menerima hadiah dari Aisyah. Sepasang mata dalam kotak merah.

Pesona Wajah - "Wajahmu semakin cantik, Sayang. Aku tambah cinta." | "Bagaimana 40 tahun lagi? Apa kamu akan makin cinta juga?" | "...."

Rabu, 01 Oktober 2014

#Jumatulis Season 2 - 02 Hasrat - Mata yang Penuh Kesedihan

"Sebab mencintai adalah merelakan dirimu untuk bahagia ... dan sakit."

Gatra memandang si pemilik mata teduh di hadapannya. Mata yang membuat Gatra berhasrat menembusnya. Menembus dinding kokoh yang dibangun si empunya.

"Kenapa kau memandangku terus, Gatra?"

Gatra memperbaiki letak duduknya sambil tersenyum tipis. "Matamu indah, Alika ... tapi penuh kesedihan...."

Perempuan itu hanya tersenyum.

"Kamu tak mau membagi kesedihanmu, Alika?"

"Kesedihan bukan untuk dibagi-bagi, Gatra."

"Lalu kapan kau bahagia? Kapan kau mau berbagi bahagia denganku?"

Alika menghembuskan napas pelan. Pandangannya dialihkan ke arah lain. "Carilah perempuan yang bisa membagi kebahagiaannya untukmu, Gatra. Jangan aku...."

"Tapi aku mau kamu."

"Apa yang bisa diharapkan dari perempuan yang masih berkutat dengan masa lalunya, Gatra?"

"Aku mencintai segala yang ada di dirimu, Alika. Kalaupun masa lalu adalah bagian dari dirimu sekarang, aku mencintai itu."

"Aku hidup di masa lalu, Gatra. Mengertilah... berhenti menjadikanku pusatmu."

Gatra menatap manik mata Alika tanpa berkedip, masih mencoba memasuki dinding kokoh yang dibangun perempuan beralis tebal itu.

"Gatra...."

"Mencintai tidak segampang itu, Alika. Kau tak bisa menyuruhku berhenti lalu mencari perempuan lain untuk kuberikan hatiku. Tak seperti itu."

Alika tersenyum samar. "Apa yang tak kausukai dariku?"

Gatra terdiam. Dia sesungguhnya menyukai segala hal tentang perempuan yang telah dikenalnya sejak tiga tahun itu. Dia suka saat Alika tersenyum. Dia suka saat Alika bercerita padanya. Dia suka saat-saat mereka duduk berdua di kafe seperti saat ini.

"Gatra?"

"Jangan pernah bersedih, Alika. Aku tak suka itu."

Alika mengulurkan tangannya menyentuh telapak tangan Gatra. Dia tersenyum lalu berucap pelan, "Cek kembali hatimu, Gatra. Apa kau benar mencintaiku atau sekadar berhasrat untuk memilikiku?"

Gatra menggenggam erat tangan Alika. "Aku ingin kaubagi kesedihanmu. Tolong jangan kausimpan sendirian. Izinkan aku melindungimu. Aku mau kau berbagi luka yang selalu tampak di matamu itu, tapi tak pernah bisa kusentuh. Aku mencintaimu, Alika. Sungguh ...."

Perlahan, genggaman itu dipaksa untuk mengendur ... lalu lepas. Alika bangkit dari duduknya, menatap Gatra.

"Aku tak bisa, Gatra. Aku hanya menyakitimu kalau kita memulai hubungan baru selain sebagai sahabat..." Alika tersenyum getir. "Aku masih berharap pada orang lain. Maafkan aku, Gatra...."

Alika melangkah pergi meninggalkan kafe tanpa berbalik lagi.

Meninggalkan Gatra yang kini di matanya juga ada kesedihan.
**

#Jumatulis Season 2 - 01 POP - Tentang POP dan Fiksimini Lainnya

1. Lolipop Lolita - Lolita tak perlu menunggu dagangan Ibu laris untuk membeli lolipop. Kini, di tangannya banyak lolipop aneka, pemberian dari Ayah tirinya, yang ia tukar dengan rabaan di kemaluannya.
*inspirasi dari FF berjudul sama karya Fahziani.

2. Kematian Raja Pop - "Kapan jenazahnya akan dikubur?" | "Setelah konser tunggalnya selesai."

3. Boyband K-Pop - Rudi, Heru, Gugun, dan Budi membentuk boyband baru. | "Bagaimana maskara-ku?" tanya Rudi sesaat sebelum konser perdana mereka.

4. Konser Musik Pop - Alika bolos sekolah demi konser band pop kesayangannya. Besoknya ia pulang dalam bentuk mayat.

5. Poppy dan Kerjaan Barunya - SEDEKAH ANDA SANGAT BERGUNA BAGI MEREKA YANG TERKENA BENCANA! | Sepekan kemudian Poppy membeli tiket konser girlband K-Pop kesayangannya.

Sabtu, 27 September 2014

#Jumatulis 02 - 01 POP : Tentang Lima Novel Populer yang Berkesan



Hai, hai…

#Jumatulis kali ini temanya adalah ‘Pop’. Hal pertama yang terlintas di benak saya saat membaca atau mendengar kata itu adalah kata ‘populer’. Populer dalam artian disukai banyak orang atau khalayak umum.
Tenang, kali ini saya tak mau membedah kata populer dari segi kebahasaan atau ejaan. Biarkan saja bedah-membedah jadi urusan orang lain atau bahasan pada waktu lain. Hahaha. Postingan kali ini saya mau membagi tentang novel-novel populer yang—sempat—saya sukai pada masanya.




Novel populer adalah novel yang memiliki masa dan pembacanya. Biasanya menampilkan masalah aktual secara tidak mendalam. Sebagian novel populer cepat ‘ketinggalan zaman’, mengingat beberapa di antaranya mengikuti perkembangan zaman. Maka tak heran ketika ada novel-novel baru yang ‘meledak’, maka novel populer tersebut akan ditinggalkan dan berganti dengan novel-novel lainnya. 
Nah, berikut lima novel populer bergenre remaja-dewasa yang sempat bahkan sampai sekarang saya sukai.

1.  FAIRISH - Esti Kinasih (2006)
Novel remaja ini saya baca saat saya kelas 3 SMP. Bercerita tentang cewek mungil bernama Fairish yang harus berpura-pura menjadi pacar seorang siswa baru yang fans-nya banyak bernama Davi. Sejak itu dimulailah kisah cinta remaja Fairish dan Davi. Novel ini benar-benar novel remaja yang membahas kisah dan lika-liku hidup remaja khususnya anak SMA. Fairish sempat dibuat serial tv-nya oleh salah satu stasiun swasta. Waktu itu saya rajin mengikuti, mengingat novel ini adalah salah satu teenlit favorit saya. Setelah Fairish, saya kemudian 'rajin' membaca karya-karya Esti Kinasih lainnya.

2. Rumah Beratap Bugenvil - Agnes Jessica (2003)

Saya ingat saat SMA saya sering sekali membaca karya-karya Agnes Jessica yang dipinjamkan oleh tetangga saya yang mamanya adalah seorang pustakawan di sebuah sekolah. Dulu saya bisa menyelesaikan satu judul buku setiap hari. Di antara novel-novel Agnes yang saya baca, ini yang paling melekat. Mungkin karena kata 'Bugenvil' yang sampai sekarang ketika disebutkan, saya pasti akan langsung teringat dengan novel ini. Sekarang saya tidak pernah membaca buku Agnes Jessica lagi. Mungkin, kelak, saya akan datang ke rumah tetangga saya dan meminta tolong kepada mamanya untuk dibawakan buku-buku Agnes Jessica lagi. :p

3. Filosofi Kopi - Dewi Lestari (2006)
Novel ini saya baca saat awal-awal kuliah. Di antara semua karya Dewi Lestari yang sudah saya baca, saya paling suka dengan buku ini. Berisi 18 buah tulisan yang ditulis dalam rentang waktu tahun 1995-2005, dan sempat dianugerahi sebagai Karya Sastra Terbaik tahun 2006 oleh Majalah Tempo. Bukan hanya karena buku ini ada unsur 'kopi'nya, taoi beberapa cerita di dalamnya memang menarik. Coba kalian nikmati sendiri deh. Hahaha.

4. Dan Hujan pun Berhenti - Farida Susanty (2007)
Ini novel yang baru saya baca tahun lalu. Genre-nya remaja, tapi cukup berbeda karena mengangkat cerita yang berbeda. Bukan tentang kisah indah anak SMA, tapi kisah suram remaja. Hanya saja saya agak terganggu dengan isi buku yang penuh dengan huruf kapital atau capslock. Idenya menarik, tapi tak cukup membuat saya nyaman membacanya. Buku ini cukup berkesan, karena cukup membuat saya emosi membacanya. hahaha.

5. Pondok Cinta - Liestyo Soewito (2002)